28 Jan 2023 Reflections 3 min read
Tentang Teras
Tentang stoikisme, kebahagiaan, dan berfokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan.
Okee kali ini kita coba bahas tentang salah satu filosofi yg menjadi pegangan w dan salah satunya dalam pengendalian emosi dan kebahagiaan. anjay ngeri ga tuh. kali ini sumbernya bukan tiktok lagi, tapi kebanyakan dari buku Filosofi Teras dan pembahasan stoikisme lain terutama tidak lain tidak bukan Ferry Irwandi.
yaps, benar sekali, Stoikisme. buat yg dari opening aja dah bosen, coba deh terusin dulu wkwk. semoga, semoga ada yg terbantu.
“Kita memiliki kebiasaan membesar-besarkan kesedihan. Kita tercabik di antara hal-hal masa kini dan hal-hal yang baru terjadi. Pikirlah apakah sudah ada bukti yang pasti mengenai kesusahan masa depan. Karena sering kali kita lebih disusahkan kekhawatiran kita sendiri.”
Seneca
susah kan ngartiinya. iya itu tadi cuma biar keren aja openingnya wkwokwok. oiya di pembahasan ini ga membahas terlalu dalam filosofi ini deh, kita cukup di pemahaman paling terkenalnya, gimana nerapinnya, apa efeknya, dan apakah ada efek sampingnya seperti obat-obat. ga perlu lah sampe ke aproptosia, anelenxia, aneikaiotes, amataiotes, view from above, premeditatio malorum, amor fati, avadra kedavra, expeliarmus, lumos, dan lain-lain.
okedeh kita mulai. seiring dengan semakin majunya zaman, dunia berjalan begitu cepat. orang-orang banyak yang terburu-buru, bukan hanya terburu-buru dalam mengejar waktu, tetapi juga pencapaian, validasi, hingga lupa untuk menikmati dunia. udah puitis belum bwang.
dari segala pengejaran-pengejaran itu, seringkali manusia menjadi begitu sedih, putus asa, dan segala energi negatif lain ketika tujuan dari pengejaran-pengejaran itu tidak tercapai. padahal, kebahagiaan itu diciptakan oleh diri sendiri. iya, dirimu, diriku, dan diri mereka masing-masing. kebahagian orang ya tanggung jawab orang itu sendiri.
dalam stoik, ada yang namanya pembagian peran. ada hal-hal yang bisa kita kendalikan, dan ada yang tidak bisa kita kendalikan. karena kebahagiaan dalam stoikisme itu berasal dari diri sendiri, maka berfokuslah pada hal-hal yang dapat kamu kendalikan. bahagialah dan sedihlah berdasar apa yang bisa kamu kendalikan. untuk hal-hal yang berada di luar kendalimu, biarkan itu terjadi, que sera sera.
kita ambil contoh deh, misal kita mengerjakan ujian, hal yang bisa kita kendalikan ya persiapan dan pelaksanaan kita kan. gimana kita belajar, gimana kita mempersiapkan stamina, gimana kita berangkat, dan gimana kita ngerjainnya. selanjutnya hal yang gabisa kita kendalikan contohnya ya hasil dari ujian tersebut. fokuslah pada hal-hal yang bisa kamu kendalikan. nilai itu kan gabisa kamu kendalikan, itu urusan prerogatif guru/dosen. kalau misal jelek yaudah diperbaiki, kalo misal bagus ya bersyukur.
stoikisme menurut w sangat bermanfaat buat orang-orang yang terlalu mencemaskan banyak hal. misal nilai semester ini gimana, pandangan orang lain gimana, kalo misal gagal dalam project atau tugas gimana, dll. ga semua hal perlu menghabiskan energimu. fokus ke urusan yang bisa kamu kendalikan. misal fokuslah ke gimana kamu memperlakukan orang lain, bukan sebaliknya. feedback itu didapatkan bukan diminta secara paksa. kalau misal feedback yg didapetin ga baik ya fokuslah ke orang-orang yang mau menghargaimu. dunia ga bakal kehabisan orang baik kok selama kamu juga baik ke orang lain.
dalam Islam, istilah kek gini dikenal sebagai “Tawakkal” atau berpasrah diri dan percaya kepada Allah. 3 tahapan dalam setiap proses kehidupan: Doa - Ikhtiar -Tawakkal. jangan kebalik wkwkw. apa yang bisa kita kendalikan adalah Doa dan Ikhtiar. untuk hasilnya, Allah udah ngasih petunjuknya agar kita berpasrah diri, nderek kersane Gusti, Tawakkal.